Pengetahuan tentang Tenun Tekstil: Cacat Tenun
2026-03-27
Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang sempurna, dan hal yang sama berlaku dalam teknik tekstil. Selama proses pemintalan, cacat muncul pada benang mentah, seperti neps (NeR) dan slub; selama proses penenunan, cacat muncul pada kain mentah, seperti benang yang salah dipintal dan ujung benang yang putus; dan selama proses pewarnaan, cacat muncul pada kain jadi, seperti bercak pewarna dan perbedaan warna di bagian ujung. Kain jadi berkualitas tinggi seharusnya memiliki sangat sedikit cacat.
Selain cacat permukaan kain (neps, neps) yang disebabkan oleh benang mentah dan perbedaan warna, bintik-bintik, dan lipatan yang disebabkan oleh pewarnaan, cacat tenun merupakan area kunci untuk pengendalian cacat. Cacat tenun mengacu pada cacat permukaan kain yang terbentuk selama proses tenun, yang secara langsung memengaruhi penampilan, kerataan, dan kualitas internal kain. Berikut ini adalah kerangka kerja sistematis untuk menganalisis cacat tenun.
I. Klasifikasi dan Karakteristik Cacat Tenun:
Berdasarkan mekanisme pembentukannya, cacat tenun dapat dibagi menjadi lima dimensi:
1. Cacat Lusi: Cacat memanjang yang disebabkan oleh masalah lusi atau operasi tenun yang tidak tepat. Cacat lusi yang umum adalah sebagai berikut.
Amenore

Morfologi: Celah linier yang terbentuk akibat putusnya benang lusi.
Penyebab: Kekuatan lungsin yang tidak mencukupi, kegagalan lungsin penghenti, gesekan lungsin yang berlebihan.
Benang lusi ganda/Benang lusi tebal/Benang lusi tipis

Penampilan: Benang lusi tunggal secara signifikan lebih tebal/tipis daripada benang biasa.
Penyebab: Distribusi benang yang tidak merata selama pemintalan, tidak dihilangkan secara efektif selama proses penenunan; penyusutan/pengenduran benang lusi.

Penampilan: Ketegangan lusi yang tidak merata menyebabkan pola gelembung/gelombang pada permukaan kain. Penyebab: Penyesuaian balok belakang yang tidak tepat, penggulungan balok lusi yang tidak merata, benang lusi yang tidak sejajar.